HALAMAN

Jumat, 09 Maret 2012

Bobroknya Hukum dan Hancurnya Peradaban


Gebrakan reformasi yang salah satunya untuk menegakkan hukum seadil-adilnya masih belum terwujud sepenuhnya. Teriakan reformasi belum mampu memiliki daya dobrak yang kuat dalam menata hukum yang lebih baik di negeri ini.
Tuntutan para intelektual, lembaga swadaya masyarakat (LSM), dan masyarakat akar rumput yang mencoba menghentikan ambruknya penegakkan hukum sudah sering digaungkan, tetapi kenyataannya masih jauh dari harapan. Cita-cita menegakkan wibawa hukum hanya tinggal cita-cita tanpa ada wujudnya. Reformasi sebagai “jalan mas” dalam rangka menegakkan supremasi hukum dan memberantas berbagai tindakan penyelewengan, masih saja sebatas retorika politik jualan kecap para pejabat.
Kekuatan hukum tidak mampu menyeret para penjahat kera putih. Kekuataan hukum hanya mampu mengadili penjahat-penjahat kelas teri. Maling uang negara dihukum dengan ringan, bahkan dibiarkan bebas. Sementara maling ayam diproses secara ketat dan dihukum berat. Padahal, status mereka sama, yatu maling yang harus diadili.
Masih segar dalam ingatan kita bagaimana kasus Bank Century yang tidak ada ujung penyelesainnya secara tuntas, kalau ada hanya penjahat kelas teri saja dan kasus mafia pajak yang hanya mampu mengungkap penjahat kelas ecek-eceknya (Gayus H.P. Tambunan) tanpa mampu menyeret para sutradaranya ke meja hijau dan menjebloskan ke penjara.
Sementara itu, komisi pemberantasan korupsi (KPK) sebagai “pembumihangus” tindak pidana korupsi semakin dirongrong kewenangan dan integritasnya. Lihat saja misalnya revisi RUU Tindak Pindana Korupsi (Tipikor) yang berencana menghapus hukuman mati. Yang lebih parah lagi dalam revisi UU No. 31/1999 tentang Tipikor versi pemerintah itu, korupsi dengan kerugian negara di bawah Rp25 juta bisa dilepas dari penuntutan hukum. Mereka tidak terkena pidana.
Mengutip perkataan Patrialis Akbar, Menteri Hukum dan HAM, penghilangan hukuman penjara itu demi alasan kemanusiaan. “Bangsa ini jangan menjadi bangsa yang kejam, kita harus punya hati nurani. Kalau korupsi Rp25 juta lalu dimasukkan penjara, 5 sampai 6 tahun, kasihan dong”.
Bukankah tidak menghukum koruptor yang menggarong uang negara di bawah 25 juta malah menghancurkan kemanusiaan. Tidak sadarkah bahwa koruptor itu perusak dan pengkhianat nilai-nilai kemanusiaan. Apa tidak lebih baik kita putus atau matikan saja “otak” penghancur kemanusiaan itu.
Membiarkan pejabat negara yang melakukan korupsi di bawah 25 juta bukanlah tindakan edukatif. Tindakan ini hanya upaya pembodohan masyarakat dan upaya pembelajaran rakyat untuk melakukan korupsi. Ini hanya akan menghacurkan peradaban bangsa Indonesia.
Tidak hanya itu, keborokan hukum terus “direproduksi” para elite penguasa di negeri ini. Misalnya lagi, dalam draf revisi UU Tipikor juga menghilangkan ancaman hukuman minimal di sejumlah pasal. Penurunan ancaman hukuman minimal menjadi 1 tahun. Dalam UU yang berlaku saat ini, ancaman hukum antara 1—4 tahun untuk korupsi yang melibatkan penegak hukum dan merugikan keuangan negara. Kewenangan penuntutan KPK pun tidak disebutkan secara jelas. Sungguh sangat ironis dan menyedihkan. Negara dalam darurat kebobrokan hukum dan kehancuran peradaban.
Istilah peradaban sering dipakai untuk menunjukkan pendapat dan penilaian kita terhadap perkembangan kebudayaan. Peradaban yang mengandung unsur-unsur budaya yang bersifat halus, indah, tinggi, sopan, luhur, dan sebagainya, maka masyarakat pemilik kebudayaan tersebut dikatakan telah memiliki peradaban tinggi. Sebaliknya, masyarakat yang melekat pada budaya kasar, jorok, tidak sopanm dan lain sebaginya dikatakan masyarakat dengan peradaban rendah.
Harus diakui seluruh komponen negara akan tersesat tanpa hukum dan peraturan. Dihukumnya koruptor dengan pidana ringan atau bahkan dibebaskannya koruptor dari segala pidana adalah tontonan yang menyedihkan sekaligus mengerikan ketika hukum absen yang kemudian mendorong runtuhnya peradaban bangsa Indonesia. Tidak diberangusnya koruptor karena bobroknya penegakan hukum tidak hanya dilihat dari beratnya beban negara, tetapi juga harus dibaca sebagai bagian dari runtuhnya peradaban.
Ambruknya peradaban juga bisa dilihat dari berkoarnya pemegang kekuasaan: hidup reformasi, berantas KKN, tegakkan hukum, adili pelanggar HAM. Tapi, semua perubahan dan gerakan itu semu belaka. Rakyat terpental jauh berada dalam situasi hyper-reality of politics, yaitu ruang yang disarati dengan kebohongan terencana, kepalsuan citra, pemutarbalikan fakta dan disinformasi. Mereka yang mestinya direformasi telah berteriak: hidup reformasi. Mereka yang terlibat KKN, malah teriak: berantas KKN. Mereka yang terlibat kasus kekerasan HAM, bebas ikut mengatur negeri ini.
Bisa dikatakan pula bahwa runtuhnya peradaban bangsa ini tidak hanya dapat dinilai dari apa tindakan itu secara kasat mata menampilkan gambaran atau realitas pembiaran koruptor bergentayangan di negeri ini, tetapi juga proses penegakan hukum yang sedang dilakukan, termasuk pembuatan undang-undang.
Oleh sebab itu, realitas lemah dan bobroknya penegakkan hukum yang mengakibatkan rendahnya peradaban bangsa harus disikapi secara radikal oleh seluruh elemen bangsa (pemerintah, masyarakat, tokoh agama, intelektual, dan sebagainya) demi perubahan peradaban yang lebih baik. Negara dengan seluruh komponennya perlu bersinergi secara serius dan konsisten menegakkan hukum. Penegakan hukum secara adil dan tidak memihak harus diperjuangkan demi tercapainya peradaban bangsa yang tinggi. (Sumber: Lampung Post, 06 April 2011)
Tentang penulis:
Ahmad Ubaidillah, Mahasiswa Magister Studi Islam UII Yogyakarta

Kamis, 01 Maret 2012

PSSI oooohh PSSI !!!

                                   .Masa Depan Sepak Bola Di Negri KORUPTOR.

    Siapa yang tak kenal dengan olahraga sepak bola,tentu semua manusia diseluruh bumi ini mengetahuinya kecuali mungkin si bedebah (koruptor) mereka tidak mengetahui itu.emh Tidak hanya eropa,america dan afrika saja yang memiliki olahraga itu,asia juga memiliki olahraga yang sangat populer itu, terutama jepang dan korsel yang sangat menonjol di asia,kita patut belajar dari mereka dalam segala hal tidak hanya tentang sepak bolanya saja,tidak tanggung-tanggung kedua negara tersebut adalah negara yang sering sekali menjadi negara langganan dalam ajang yang sangat bergengsi di dunia persepak bolaan yah tentu saja piala dunia , turnamen yang di adakan dalam lima tahun sekali ini menjadi hal yang sangat wajib bagi setiap negara yang ada di bumi ini , tentu saja tidak hanya menyangkut dalam hal sepakbolanya tetapi juga rasa gengsi dan tak jarang juga sebagai ajang pembuktian negara mana yang terbaik didunia ini, tetapi ada hal yang sangat memilukan dihati saya pribadi sebagai anak bangsa indonesia yang mencintai tanah air ini, di balik kemajuan persepakbolaan di negara lain kemanakah sepakbola di negaraku ini ?...........
   konon katanya dahulu timnas kesayanganku ini menjadi momok yang sangat menakutkan bagi negara-negara diasia pada masa kejayaanya sang macan asia julukanya, tetapi apa yang terjadi dimasa sekarang indonesia memiliki talenta dan skill yang berlimpah tapi kenapa hal itu tidak bissa dilihat oleh sang pemimpin ( PSSI ).
ada apa dengan PSSI pada masa sekaran gkenapa selalu memikirkan dirinya sendiri yang berkedok perubahan tetapi perubahn apa yang telah kau perbuat PSSI ?.....aku sebagai pemuda indonesia kecewa dengan setiap keputusanmu yang terkesan bimbang, kemaren IPL yang di cerca dan tidak di akui tetapi sekarang ISL yang diilegalkan, apa yang ada di otakmu sang pemimpin (PSSI), saya bingung kenapa ada perbedaan kasih sayang antara ISL ataupun IPL, kenapa tidak di satukan saja menjadi satu agar semua pemain terbaaik indonesia yang memiliki kemampun mongolah sikulit bundar di latih dengan keras dan dilatih dengan pelatih yang bagus saya fikir indonesia pasti bisa bersaing dengan negara lain yang ada diasia maupun dieropa,keputusan yang tepaatlah yang kami butuh kan sangpemimpin (PSSI) kami tak butuh wajah kalian yang penuh tipuan itu,apa perlu kami rakyat yang bodoh ini langsung turun tangan ?....jika kami sampai turun tangan berati apa bedanya kau sangpemimpin (PSSI) dengan sang bedebah (koruptor) yang tidak memiliki rasa belas kasihan terhadap rakyatnya, berubahlah sangpemimpin(PSSI) jika tidak timnas kita akan mengalami keterpurukan,apa mau timnas kalah 12-0 dengan tetangga berisik(malaysia) jangan biyarkan itu terjadi dan cukup bahrain saja yang bisa melumat timnas kita dengan skor mutlak 10-0 ,lakukan perubahan satukan seluruh pemain yang terbaik dan bawlah indonesia di kancah dunia sepakbola dunia yang bagus, aku rindu indonesia menjadi juara...
MAJUTERUS PANTANG MUNDUR INDONESIA....

Awal Kuliahku

    Aku fikir kuliah itu gampang dan tidak menyusahkan untuk mencari sebuah nilai yang bagus,dengan berfikir seperti itu aku pun terhanyut dengan segala ke tidak seriusanku dalam melakukan kegiatan perkuliahan,setiap ada tugas aku selalu menganggap ''ah gampang'' dan malah tidak mengerjakanya,kuliah pun aku jarang masuk dalam hampir satu minggu hanya masuk dua atau empat kali saja dalam satu minggunya,dan apa bila ada teman bertanya kepadaku '' kenapa kamu jarang seali masuk kuliah dan hanya bersantai-santai saja disini ?'', aku pun dengan sederhana menjawab '' semerter satu ni cuma buat santai-santai dulu, dan aku juga malas mau belajar,aku pengen liat hasil ujian aku besok bagai mana jika aku gak belajar,apakah hasil ujian dengan cara belajar dan tidak belajar itu beda'' lalu temanku menjawab '' terserah kau sajalah andika''....
   Ujian akhir semesterpun aku lewati dan tentu saja tanpa belajar sekalipun si setiap malamnya,dengan santainya aku pun menyelesaikan setiap ujian dan selalu kebih awal menyelesaikan mata kuliah yang di ujiankan, setelah ujian selesai aku sedikit khawatir apa hasilnya akan bagus,akhirnya hasil ujian pertamapun di umumkan hasilnya, dengan tergesa-gesa akupun dengan cepat melihatnya dan perkahan-lahan akupun mencari namaku di daftar itu, akhirnya akupun menemukan daftar namaku dan begitupun hasilnya, dengan wajah biasa saja tanpa kaget sebenarnya hasil yng aku depat ternyata ( E ),hasil ujian yang paling parah dalam sejarah hidupku,dengan penuh rasa kecewa akupun sedih dan tidak menaruh harapan yang besar,ternyata belajar itu sangatlah penting ketika kita merasa tidak bisa untuk mengerjakan hal apapun mau itu belajar ataupun di dalam kehidupan sehari-hari.
   Hikmah yang dapat aku petik dari tindakan bodohku itu adalah aku gak boleh meremehkan hal sekecil apapu dalam hidup, belajar itu wajib...

WWW.STMIK AMICOM.COM